Belajar dengan jarak jauh
Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di DKI Jakarta, akan mulai berlaku pada Jumat (10/04) mendatang. PSBB merupakan pembatasan kegiatan tertentu untuk penduduk dalam suatu wilayah yang diduga terinfeksi virus corona, demi mencegah kemungkinan penyebaran virus yang semakin luas.
Lewat Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) RI Nomor 9 Tahun 2020, sejumlah peraturan terkait pelaksanaan PSBB ditetapkan, salah satunya tentang peliburan sekolah. Kegiatan belajar mengajar di sekolah-sekolah dihentikan sementara dan digantikan dengan media yang efektif, setidaknya hingga 14 hari ke depan.
Sebelum PSBB DKI Jakarta disetujui, sejumlah sekolah telah terlebih dulu meliburkan kegiatan belajar mengajar sebagai upaya peredaman penyebaran COVID-19. Sehingga sejumlah proses belajar di rumah dengan materi dari sekolah dan dibantu oleh orang tua murid telah dilaksanakan.
Tantangan pendidikan jarak jauh dan pendampingan wali murid
Namun sejumlah orang tua murid mengaku kesulitan untuk memantau proses belajar anaknya di rumah, terutama bagi mereka yang juga bekerja di rumah. Salah satu orang tua murid, Anandatie Augustiasih mengatakan, informasi seputar sistem pemindahan proses belajar mengajar dari sekolah ke rumah belum komprehensif.
''Yang saya pelajari hanya sekolah bertaraf internasional saja yang menerapkan disiplin dan online class dengan waktu yang sesuai schedule. Kalau yang skala nasional tidak ada, malah dikembalikan ke orang tua. Padahal orang tua ada kendala wfh (work from home) juga jadi tidak bisa memantau dengan baik,'' kata Anandatie.
Hal senada diungkapkan oleh orang tua murid asal Makassar, Lina Herlina yang telah mendampingi anaknya belajar di rumah selama setidaknya dua minggu. Menurutnya kualitas pendidikan anak bergantung pada kualitas pengajar. Ia memberi contoh ada guru yang mampu mengirimkan video contoh mata pelajaran untuk dikerjakan anaknya di rumah, dan ada yang hanya bisa menjelaskan tugas, lalu meminta murid tersebut mengerjakannya.
"Akhirnya anak hanya mengerjakan dan tidak mengerti apa yang dimaksud. Harusnya kan di era seperti ini, di era digital, kualitas guru juga harus memadai,'' katanya.
Belum lagi kendala teknis, seperti yang dialami orang tua murid asal Magelang, Aminatun, ketika telepon genggamnya rusak dan tidak punya kuota internet.
Komentar
Posting Komentar